RSS

Resensi Film 5 cm

230px-5CMPOSTERFILM

Sutradara : Rizal Mantovani
Ditanyangkan : 12 Desember 2012
Genre : Drama
Diangkat dari Novel National Bestseller ‘5cm’ karya Donny Dhirgantoro
Pemain :
~ Herjunot Ali (Zafran),
~ Raline Shah (Sebagai Riani),
~ Fedi Nuril (Sebagai Genta),
~ Igor Saykoji (Sebagai Ian),
~ Denny Sumargo (Sebagai Arial),
~ Pevita Pearce (Sebagai Dinda).

Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah) dan Ian (Igor Saykoji) adalah lima remaja yang telah menjalin persahabatan sepuluh tahun lamanya. Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Zafran yang puitis, sedikit “gila”, apa adanya, idealis, agak narsis, dan memiliki bakat untuk menjadi orang terkenal. Riani yang merupakan gadis cerdas, cerewet, dan mempunyai ambisi untuk cita-citanya. Genta, pria yang tidak senang mementingkan dirinya sendiri sehingga memiliki jiwa pemimpin dan mampu membuat orang lain nyaman di sekitarnya. Arial, pria termacho di antara pemain lainnya, hobi berolah raga, paling taat aturan, namun paling canggung kenalan dengan wanita. Ian, dia memiliki badan yang paling subur dibandingkan teman-temannya, penggemar indomie dan bola, paling telat wisuda. Ada pula Dinda (Pevita Pearce) yang merupakan adik dari Arial, seorang mahasiswi cantik yang sebenarnya dicintai Zafran. Suatu hari mereka berlima merasa “jenuh” dengan persahabatan mereka dan akhirnya kelimanya memutuskan untuk berpisah, tidak saling berkomunikasi satu sama lain selama tiga bulan lamanya.

Selama tiga bulan berpisah penuh kerinduan, banyak yang terjadi dalam kehidupan mereka berlima, sesuatu yang mengubah diri mereka masing-masing untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan. Setelah tiga bulan berselang mereka berlima pun bertemu kembali dan merayakan pertemuan mereka dengan sebuah perjalanan penuh impian dan tantangan. Sebuah perjalanan hati demi mengibarkan sang saka merah putih di puncak tertinggi Jawa yaitu di puncak Mahameru pada tanggal 17 Agustus. Sebuah perjalanan penuh perjuangan yang membuat mereka semakin mencintai Indonesia. Petualangan dalam kisah ini, bukanlah petualangan yang menantang adrenalin, demi melihat kebesaran sang Ilahi dari atas puncak gunung. Tapi petualangan ini, juga perjalanan hati. Hati untuk mencintai persahabatan yang erat, dan hati yang mencintai negeri ini.

Segala rintangan dapat mereka hadapi, karena mereka memiliki impian. Impian yang ditaruh 5cm dari depan kening.

sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/5_cm_(film)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 1, 2014 in Tugas Softskill

 

Makrab ke tidung

IMG-20140308-WA0002

Makrab kelas 4ea01 Universitas Gunadarma tanggal 05-06 Maret 2014
secara singkat cukup menyenangkan liburan di pulau tidung tapi sayangnya sampah di sekitar pasir pantai di home stay merusak sekali semangat liburan disana, skor 2.5/5 untuk kepuasan berlibur disana

2014-03-06 06.46.58

2014-03-06 06.55.432014-03-06 06.51.06

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 1, 2014 in Tugas Softskill

 

Kelemahan dan Kekuatan Iklan Televisi

Menurut Morrisan (2010:240), bahwa kekuatan dan kelemahan iklan televisi sebagai berikut:
1. Kekuatan Iklan Televisi
a. Daya Jangkau Luas
Televisi mampu menjangkau masyarakat yang sangat luas, hal ini memungkinkan efisiensi biaya karena kemampuannya menjangkau audiensi dalam jumlah besar daripada media lainnya.
b. Selektivitas dan Fleksibilitas
Televisi dapat menjangkau audiensi tertentu dengan adanya variasi komposisi audiensi sebagai hasil dari isi program, waktu siaran, dan cakupan geografis siaran televisi. Selain audiensi yang besar, televisi juga menawarkan fleksibilitas-nya dalam hal audiensi yang dituju. Jika suatu perusahaan ingin mempromosikan barangnya pada suatu wilayah tertentu, maka perusahaan dapat memasang iklan pada stasiun televisi yang terdapat di wilayah bersangkutan.
c. Fokus Perhatian
Siaran iklan televisi akan selalu menjadi pusat perhatian audiensi pada saat iklan itu ditayangkan. Jika audiensi tidak menekan remote control-nya untuk melihat program stasiun televisi lain, maka ia harus menyaksikan tayangan televisi itu satu per satu.
d. Kreatifitas dan Efek
Televisi merupakan media iklan yang paling efektif dalam menampilkan kreatifitas pemasar secara maksimal. Karena dapat menunjukkan cara bekerja suatu produk yang digunakan serta menambah aspek hiburan dalam iklan yang ditayangkan.
e. Prestise
Perusahaan yang mengiklankan produknya ditelevisi biasanya akan menjadi sangat dikenal orang. Hal ini memungkinkan produk yang ditawarkan akan menerima status khusus di masyarakat.
2. Kelemahan Iklan Televisi
a. Biaya Mahal
Walaupun televisi diakui sebagai media yang efisien dalam menjangkau audiensi dalam jumlah besar namun televisi merupakan media paling mahal untuk beriklan. Selain biaya pemasangan iklan yang mahal, biaya produksi iklan berkualitas yang juga mahal.
b. Informasi terbatas
Dengan durasi iklan yang rata-rata hanya 30 detik sekali tayang, maka pemasang iklan tidak memiliki cukup waktu untuk secara leluasa memberikan informasi yang lengkap. Durasi iklan disusun dalam kelipatan waktu tertentu misalnya 30 detik, 60 detik dengan biaya yang berbeda secara signifikan. Pemasang iklan tidak dapat mengajukan penayangan iklan dengan durasi tanggung misalnya 34 detik.
c. Selektivitas terbatas
Walaupun televisi menyediakan selektivitas audiensi melalui program-program yang ditayangkannya dan juga melalui waktu siarannya namun iklan televisi bukanlah pilihan yang tepat bagi pemasang iklan yang ingin membidik konsumen yang sangat khusus atau spesifik yang jumlahnya relatif sedikit.Iklan televisi belum mampu menandingi radio,surat kabar, dan majalah dalam menjangkau segmen audiensi secara lebih khusus.
d. Penghindaran
Adanya kecenderungan audiensi untuk menghindari saat iklan yang ditayangkan karena menggunakan kesempatan penayangan iklan untuk melakukan pekerjaan lain, memindahkan channel atau mengecilkan volume suara..
e. Tempat Terbatas
Jadwal tayang iklan di televisi tidak mudah dirubah karena memungkinkan mengorbankan waktu penayangan program acara televisi. Jika waktu penayangan program banyak diambil untuk iklan, maka akibatnya audiensi akan meninggalkan acara televisi itu.

Sumber:
Morrisan. 2010. Periklanan: Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 1, 2014 in Tugas Softskill

 

Prinsip-Prinsip Efektivitas Iklan

Menurut O’Guinn dkk (2008) dalam buku Agus Hermawan (2012:75), terdapat 10 prinsip iklan yang efektif dimana prinsip efektivitas ini belum tentu bisa diterapkan pada semua iklan:
1. Buatlah Khalayak Tertarik (Grab People)
Sebuah iklan yang baik harus mampu membuat khalayak tertarik dengan segera. Hal ini sangat penting, dalam arti bahwa iklan harus mampu meraih perhatian sesegera mungkin dalam sedetik. Tujuan utama iklan perusahaan adalah untuk membuka kemungkinan sebanyak mungkin dengan iklan yang menarik (eye-catching) dalam ruang dan waktu terbatas. Paksalah khalayak sasaran untuk mengambil keputusan segera sebelum ia beralih. Pada hakikatnya semakin spesifik iklan akan semakin baik mengakomodasi pelanggan potensial.
2. Jadilah Cerdas dan Kreatif (Be Cleaver and Creative)
Kecerdasan dan kreativitas diperlukan untuk menarik khalayak dan mewujudkan merek dengan cara yang positif. Perusahaan yang baik harus memikirkan hal ini dan secara ekstrem membuat yang cerdas serta melakukan studi mendalam untuk menciptakan iklan kreatif, karena iklan yang kreatif mencerminkan perusahaan yang cerdas. Para pesaing juga akan berupaya untuk menghasilkan iklan yang kreatif, dan mereka siap utuk bersaing. Pemasar dengan dukungan ide kreatifnya, hanya akan memiliki kesempatan untuk memenangkan persaingan dengan menyajikan iklan yang belum pernah dilihat sebelumnya.
3. Bicaralah Dengan Lantang (Speak Loudly)
Semakin lantang kita berbicara, semakin banyak orang yang mendengarkan. Konsep yang sama diterapkan dalam iklan. Perusahaan ingin menyampaikan sesuatu kepada khalayak sasaran, dan ingin didengarkan. Hal tersebut dapat dicapai dengan berbagai cara, di antaranya dengan meningkatkan intensitas frekuensi iklan, ukuran besar, warna dan latar belakang iklan, keunikan dibandingkan dengan iklan lainnya, dan sebagainya. Hal ini merupakan metode yang luar biasa untuk membuat produk senantiasa diingat, karena elemen provokatif dalam iklan juga merupakan elemen untuk menjual produk. Meskipun mudah dinyatakan, hal ini cukup sulit dilaksanakan.
4. Jangan Membuat Mereka Berpikir (Terlalu Banyak) – Dont Make Them Think (Too Much)
Salah satu panduan umum, khususnya dalam desain web, adalah jangan membuat orang berpikir. Pemasar perlu mendapatkan berbagai cara yang tepat, tetapi tidak seharusnya membuat orang berpikir terlalu banyak. Penyederhanaan isi pesan penting agar orang mengetahui bahwa iklan sudah memberikan gambaran utuh dalam otak konsumen ketika mereka melihatnya.
5. Warna Yang Menarik Tetapi Tetap Masuk Akal (Colors That Pop Make Sense)
Tergantung pada iklannya, pemasar biasanya menginginkan warna atau iklan yang trendi dan tidak ketinggalan zaman. Pilihan warna sangatlah penting sebagai aspek periklanan. Pemasar yang baik sadar bahwa pilihan warna harus sesuai dengan cita rasa merek. Warna harus mewakili lingkungan dimana iklan berada. Dorong keinginan khalayak dengan warna, namun jangan sampai membuat mereka terganggu dengan warna yang berlebihan. Pilihan warna yang tepat bergantung pada jenis iklan. Jika kita ingin membuat ilustrasi iklan yang mereknya “menyenangkan”, menggunakan berbagai warna cerah bisa jadi pilihan. Jika iklannya lebih serius, penggunaan skema warna yang digunakan biasanya lebih sederhana.
6. Informatif (Be Informatif)
Setiap iklan harus menyatakan suatu pesan. Iklan merupakan visualisasi pesan. Iklan Gudang Garam, FedEx dengan mobil truk bergerak, dengan penampilan hanya pada merek tanpa pesan lain. Iklan itu hanya mencermikan satu pesan bagi yang melihatnya, namun pesan itu tersampaikan untuk menarik khalayak.
7. Buatlah Agar Menonjol dan Mudah Diingat (Stand Out And Be Memorable)
Menjadi unik dan mudah diingat adalah dua komponen dari iklan yang baik. Iklan komersial harus unik dan secara keseluruhan berbeda dari iklan yang lain, dengan tetap menjaga prinsip keaslian kreasi (orisinal), Jika kampanye iklan berlangsung tanpa dikenal oleh masyarakat, maka segala upaya akan sia–sia.
8. Berikanlah Cita Rasa (Give Off A Feeling)
Setiap perusahaan dan merek memiliki perasaan atau nada. Perusahaan perlu menunjukkannya melalui iklan. Orang-orang harus mampu memahami cita rasa yang dimiliki perusahaan hanya dengan melihat iklan.

9. Tunjukkan, Bukan Bercerita (Show, Not Tell)
Salah satu ciri iklan yang baik adalah menunjukkan sesuatu alih-alih menceritakan sesuatu. Caranya adalah dengan memvisualisasikannya sebagai perwujudan dari konsep yang ada pada teks.
10. Gunakan Humor: Gunakan Pengandaian (Use Humor:Use A Metaphor)
Humor merupakan teknik yang berguna untuk menarik orang terhadap suatu iklan. Pengandaian/metafora dapat menjadi cara yang bagus untuk menambah humor. Namun humor tidak selalu tepat, meski cocok digunakan untuk sebagian produk, terkadang humor tidak tepat digunakan dalam iklan merk perusahaan tertentu.

Sumber:
Hermawan, Agus. 2012. Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Erlangga.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 1, 2014 in Tugas Softskill

 

Mengenal Secara Singkat Iklan

1. Pengertian Iklan
Menurut PPPI(Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia), “iklan adalah segala bentuk pesan tentang suatu produk yang disampaikan melalui suatu media, dibiayai oleh pemrakarsa dan ditujukan untuk sebagian atau seluruh masyarakat”.
Menurut Philip Kotler & Kevin Lane Keller (2008:244), “Iklan adalah segala bentuk presentasi nonpribadi dan promosi gagasan, barang, atau jasa oleh sponsor tertentu yang harus dibayar”.
Menurut Handito Joewono (2011:78), “Iklan merupakan alat promosi yang sangat berpengaruh untuk memperkenalkan produk baru dan meningkatkan kesadaran konsumen”.

2. Tujuan Iklan
Menurut Philip Kotler & Kevin Lane Keller (2008:245), iklan berdasarkan tujuannya yaitu :
1. Informative advertising (Iklan informasi)
Dimaksudkan untuk memperkenalkan suatu produk yaitu menciptakan kesadaran akan merk dan pengetahuan mengenai produk baru atau ciri baru dari produk yang telah ada.
2. Persuasive advertising (Iklan yang meyakinkan)
Dimaksudkan untuk tahap persaingan yaitu untuk membangun permintaan dengan menciptakan kesukaan, pemilihan, keyakinan dan pembelian suatu produk atau jasa.
3. Reminder advertising (Iklan pengingat)
Dimaksudkan untuk merangsang pembelian berulang dari produk atau jasa.
4. Reinforcement advertising (Iklan penguatan)
Dimaksudkan untuk meyakinkan pembeli bahwa pembelian yang dilakukan adalah keputusan yang tepat.

3. Cara Menyusun Penyampaian Iklan
Menurut Philip Kotler & Kevin Lane Keller (2008:214), merumuskan komunikasi untuk mencapai tanggapan yang diinginkan akan menuntut pemecahan tiga masalah yaitu:
1. Apa yang harus dikatakan (strategi pesan)
Dalam menentukan strategi pesan, manajemen mencari daya tarik, tema, atau gagasan yang akan mengikat ke dalam penentuan posisi merek, dan membantu untuk membangun titik kesamaan atau titik perbedaan. Beberapa daripadanya mungkin berkaitan langsung dengan kinerja produk atau jasa (mutu penghematan atau nilai merek) sementara yang lain mungkin berkaitan dengan pertimbangan-pertimbangan yang lebih ekstrinsik ( mereknya bersifat kontemporer, populer atau tradisional).
2. Bagaimana mengatakannya (strategi kreatif)
Efektivitas komunikasi tergantung pada bagaimana pesan diekspresikan dan juga isi pesan itu sendiri. Strategi kreatif adalah cara pemasar menerjemahkan pesan mereka ke dalam satu komunikasi yang spesifik.
3. Siapa yang seharusnya mengatakannya (sumber pesan)
Pesan yang disampaikan oleh sumber pesan yang menarik atau terkenal akan lebih menarik perhatian dan mudah diingat. Hal inilah yang menyebabkan pengiklanan sering menggunakan orang-orang terkenal sebagai juru bicara dalam menyampaikan pesan iklan. Orang terkenal tersebut kemungkinan akan efektif apabila mereka melambangkan ciri utama produk. Yang terpenting kredibilitas juru bicara tersebut. Ketiga faktor kredibilitas yang paling sering dikenal adalah keahlian (expertise), kelayakan dipercaya (trustworthiness), kemampuan disukai (likability).

Sumber:
Joewono, Handito. 2011. The 5 Arrow Of New Marketing. Jakarta: Arrbey.
Kotler, Philip and Kevin Lane Keller. 2008. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Indeks

http://www.p3i-pusat.com/rambu-rambu/buku-pedoman/193-definisi-iklan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 1, 2014 in Tugas Softskill

 

Cara Menilai Secara Rutin Tingkat Kepuasan Konsumen

Dikutip dari situs eciputra.com, Menilai dengan mengukur tingkat kepuasan pelanggan sangatlah penting pada sebuah usaha ataupun bisnis, karena dari nilai inilah kita dapat mengevaluasi posisi produk kita dalam pasar persaingan, dengan mengetahui posisi produk kita, maka kita akan dapat membandingkan produk kita dengan produk pesaing sehingga kita bisa memperbaiki ulang produk untuk mendapatkan peringkat tinggi dalam pasar pesaingan.

Apabila kita tidak melakukan evaluasi pasar maka kemungkinan kita bisa kehilangan pelanggan, oleh karena itu untuk mempertahankan pelanggan kita harus mengetahui seberapa kepuasan pelanggan dengan produk yang kita jual. Menurut Kotler dan Fandy Tjiptono (2002) kita dapat mengukur kepuasan pelanggan dengan cara sebagai berikut:

  1. Melalui sistem keluhan dan saran
    Setiap perusahaan harus mempunyai sistem keluhan dan saran. Hal ini perlu untuk memberikan konsumen kesempatan sebesar mungkin untuk memberikan kritik serta saran atau bahkan pendapat dari konsumen. Dari sinilah kita dapat mengetahui seberapa baik dan buruk produk kita. Dan informasi yang diperoleh dari konsumen bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi sehingga kita dapat berkreatif dan lebih inovatif dalam mengelola sebuah produk. Selain itu dari saran serta keluhan pelanggan kita juga bisa langsung mengatasi dan merespon sumber permasalahan yang terjadi.
  2. Survei kepuasan pelanggan
    Melalui survey ini memungkinkan sebuah usaha mendapatkan tanggapan langsung dari seorang pelanggan. Dalam hal ini terdapat 3 macam cara dalam mensurvey pelanggan.
  • Directly Reported by Satisfaction
    Yaitu pengukuran langsung yang dilakukan oleh sebuah usaha kepada pelanggannya seperti ungkapan pertanyaan seberapa puas anda terhadap produk kami? dan anda akan mendapatkan sangat tidak puas, tidak puas, netral, puas, dan sangat puas.
  • Derived Dissatisfaction
    Pertanyaan ini mengutamakan 2 hal, yakni seberapa besar harapan pelanggan terhadap produk yang kita miliki dan kedua seberapa kualitas kinerja usaha kita yang dirasakan oleh pelanggan.
  • Problem Analisys
    Pelanggan selaku responden diharapkan mengungkapkan dua hal pokok dalam hal ini, pertama yaitu masalah masalah yang dihadapi terkait dengan produk usaha dan kedua adalah saran saran yang ditujukan untuk usaha kita.
  1. Ghost Shopping
    Cara ini dengan mempekerjakan orang lain yang berperan sebagai pelanggan pesaing, dengan kata lain ghost shopper akan membeli produk dari pesaing kita dan meneliti kelemahan dan keunggulan produk pesaing kita berdasarkan dari pengalaman dan pembelian produk produk pesing tersebut.
  2. Last Analisys Customer
    Metode dilakukan dengan cara perusahaan yang akan menghubungi pelanggan yang berhenti berlangganan dari usaha kita, untuk mencari beberapa informasi penyebab keberhentian pelanggan. Sehingga bisa mengambil kebijakan berikutnya untuk memperbaiki kinerja dan kualitas produk usaha. (bn)

Sumber : http://eciputra.com/berita-4245-pengusaha-wajib-rutin-menilai-tingkat-kepuasan-konsumennya.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2013 in Tugas Softskill

 

5 Sikap Yang Harus Dihindari Pemimpin

Dikutip dari situs eciputra.com, wight Eisenhower, Presiden Amerika Serikat ke-34 pernah berujar, “Kepemimpinan adalah seni untuk membuat orang lain melakukan sesuatu yang Anda inginkan, dan membuatnya merasa ia ingin melakukan hal itu tanpa keterpaksaan.”

Menurut Toddi Gutner, penulis di “The Wall Street Journal,” kata-kata yang terucap dari Eisenhower tadi akan sangat bermakna bagi setiap pemilik bisnis kecil dan menengah.

Kata-kata tersebut di atas berbeda dari ujaran yang mengatakan, “Jika Anda ingin sesuatu berjalan dengan baik, lakukan sendiri.” Menurut Toddi, kata-kata tersebut akan membuat pemilik perusahaan kecil dan menengah dalam masalah.

Masalah untuk mendelegasikan tugas adalah salah satu kesalahan manajemen dan kepemimpinan yang paling sering dilakukan oleh pemimpin perusahaan kecil dan menengah. Ketika kesalahan ini terjadi, mungkinkah diperbaiki? Berikut adalah beberapa pendapat para ahli mengenai opini dan cara pandang pemimpin perusahaan yang bisa membuat mereka dalam masalah.

Semuanya tentang saya
Dalam banyak kasus, para entrepreneur sangat berambisi terhadap perusahaan mereka, sehingga mereka kehilangan perspektif dan mencampuradukkan siapa diri mereka dengan bisnisnya. Gary Schuman, presiden CDL Consulting, firma konsultan kepemimpinan di New York mengatakan, “Ego si pemilik wirausaha seringkali menghalangi. Sehingga sulit untuk si pemilik perusahaan dan tim manajemennya menentukan arah untuk pertumbuhan perusahaannya. Sekali-sekali, pemimpin perusahaan perlu mengkaji ulang apa yang benar-benar berhasil dan apa yang tidak berjalan dengan baik. Disarankan untuk mendapatkan feedback informal dari wirausahawan lain. Atau, lebih baik lagi, sewa pelatih untuk membantu Anda mengenali kekuatan dan kelemahan diri sebagai pemimpin.

Tak ada yang lebih baik dari saya
Ini adalah salah satu penyebab masalah pada delegasi. Ini sangat mudah dimengerti, mengingat para entrepreneur biasanya memulai segala sesuatunya dari nol, dan ialah yang memegang kunci keputusan-keputusan penting. Namun adalah hal yang penting bagi pemilik perusahaan untuk menjadi orang yang berpengaruh, bukan orang yang mengontrol segalanya. Pemilik perusahaan perlu untuk mulai memercayai orang lain dan menyisihkan waktu membangun orang-orang di sekitarnya agar mereka pun bisa melatih peran yang lebih tinggi bagi mereka.

Visi saya adalah untuk tetap di bisnis
Seringkali pemimpin bisnis kecil terlalu ikut campur pada pekerjaan harian sehingga mereka sulit untuk menyusun langkah strategis ke depannya, mengenai arah perusahaan. Anda perlu mengambil waktu untuk melambatkan diri dan berefleksi, lalu pikirkan adrenalin untuk menjalankan bisnis ini. Hal ini kemudian menjadi hal yang penting untuk membangun bakat dan mendelegasikan tugas, sehingga para pemimpin bisnis kecil bisa melakukan tugasnya, yakni memimpin.

Ide saya adalah yang terbaik
Bisnis kecil tumbuh di sekitar kepribadian kuat dari para pemimpinnya, yang seringkali berarti, “sebuah lingkup kerja yang mengajar pegawainya untuk menjadi reaktif ketimbang proaktif”. Dalam tempat kerja seperti ini, para pegawai seringkali sulit untuk mengungkapkan isi pikiran mereka. Anda bisa mengambil alih pikiran mereka, tetapi bukan hati mereka, padahal justru hati merekalah yang terpenting. Untuk menghindari kultur semacam ini, pemilik bisnis kecil harus menyiapkan level kepercayaan yang tinggi, dengan komunikasi dua arah, juga pembagian tanggung jawab dan peran yang sangat jelas. Pegawai harus merasa mereka bisa menyumbang saran dan ukuran untuk dikontrol. Mungkin kotak ide untuk pegawai bisa diciptakan agar para pegawai bisa menyumbangkan sarannya dan tidak selalu berkonsentrasi pada ide si pemilik saja, karena yang ada di lapangan dan berhadapan langsung dengan para konsumen adalah si pegawai

Saya tak perlu belajar bagaimana cara memimpin perusahaan
Salah satu pelajaran tersulit untuk dipelajari adalah, menjadi pemimpin yang efektif tak selalu datang alamiah. Banyak orang yang butuh bantuan mempelajarinya. Anda harus mau untuk terus belajar bertumbuh dan berkembang sesuai perubahan zaman. Karena, bisa saja kemampuan yang selama ini Anda anggap sudah benar dan baik, suatu saat bisa berubah menjadi hal yang tak lagi relevan atau dibutuhkan ketika perusahaan mulai berkembang. Karena itulah, mencari opini dari luar, belajar dari teman, membangun jaringan dari sesama pemilik usaha kecil, atau dari pelatih bisa membantu menambah wawasan mengenai kepemimpinan dan mengatur menyusun gol di masa depan yang baru. (*/dari berbagai sumber)

 

sumber : http://eciputra.com/berita-862-5-sikap-yang-harus-dihindari-pemimpin.html

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2013 in Tugas Softskill